27. May 2017 · Comments Off on Cara Menurunkan Berat Badan bagi penderita Hipotiroid · Categories: Uncategorized · Tags:

Cara Menurunkan Berat Badan bagi penderita Hipotiroid

Cara Menurunkan berat badan

Jika Anda telah didiagnosa menderita hipotiroid, mengetahui hal itu bisa jadi membuat Anda merasa frustasi atas usaha menurunkan berat badan. Ini adalah kondisi ekstrim umum yang yang berdampak penting terkait kesehatan dan penurunan berat badan. Hipotiroid dapat terjadi pada usia berapapun, namun paling sering terjadi pada wanita di atas 60 tahun.

Hipotiroid saat ini diperkirakan telah didiagnosa terhadap 27 juta orang di Amerika Serikat. Jutaan lainnya tidak terdiagnosa, di bawah diagnosa atau tidak diobati. Selain itu, dokter menemukan lebih sering terjadi hipotiroid subklinis, misalnya fungsi tiroid lemah tanpa gejala seperti lelah atau kedinginan, dapat mempengaruhi orang-orang sewaktu-waktu hanya karena buruknya asupan nutrisi.
Metabolisme Melambat, Pembakaran Kalori Melambat

Saat kelenjar tiroid tidak aktif sebagaimana mestinya, hal ini dapat menyebabkan masalah berat badan. Hormon tiroid, T4 dan T3, mengatur metabolisme tubuh – mereka memberikan setiap sel di dalam tubuh energi yang dibutuhkan untuk berfungsi. Mereka sangat penting untuk membakar kalori. Jika kadar hormon tiroid rendah, Anda membakar lebih sedikit kalori per hari. Tiroid yang dalam keadaan kurang aktif membuat kalori dihitung lebih banyak, bahkan dua kali lipat. Hal ini membuat penurunan berat badan menjadi sebuah proses yang lama atau dua kali lebih sulit.

Tangda-tanda dan gejala klinis dari tiroid yang kurang aktif menghasilkan metabolisme yang melambat – kenaikan berat badan, rasa lemah dan lelah, konstipasi yang sering, kaki dan tangan dingin, kulit kering dan bersisik, rambut menipis, kuku rapuh, dan detak jantung lemah (1;2).

Tanda-tanda dan Gejala Klinis Hipotiroid

Rasa lemah dan lelah
Rambut kering, rapuh atau menipis
Detak jantung lemah
Kuku kering, rapuh atau mudah patah
Konstipasi yang sering
Tangan dan kaki dingin
Lidah tebal dan membengkak
Kulit kasar, kering atau bersisik

Menjaga Fungsi Tiroid Normal Sebaik Mungkin

Cara menurunkan berat badan dengan Pola makan sehat memberikan jumlah mineral yang memadai seperti iodium, selenium, zat besi dan zinc dapat menjadi kunci pendukung metabolisme tiroid. Dari semua mineral tersebut, iodium dan selenium merupakan yang terpenting dan sering kurang dalam pola makan ala Barat, khususnya sekarang bagi orang-orang yang sadar kesehatan yang sering mengurangi asupan garam yang merupakan sumber terbaik minera ini yaitu garam beriodium.

Asupan tidak memadai untuk iodium atau selenium – atau dalam beberapa kasus terlalu banyak asupan, yang mana jarang terjadi – dapat menyebabkan hipotiroid sub klinis atau disertai pembengkakan. Kelenjar tiroid merubah iodium yang berasal dari makanan menjadi hormon tiroid T1, T2, T3, dan T4. Yang paling kuat adalah T3 (triiorodyronine), dimana tiga kali lebih kuat dibandingkan T4 (tiroksin). Te dibuat dari tirosin dan tiga molekul iodium. T4 mengandung molekul tambahan iodium. Selenium dibutuhkan dengan kadar yang cukup karena dibutuhkan untuk perubahan enzim dari T4 menjadi T3.

Sumber makanan yang baik untuk iodium meliputi garam iodium dan sayuran laut seperti ganggang (sering dimakan bersama sup miso atau sebagai hiasan) dan nori (digunakan untuk membungkus sushi). Sumber yang baik untuk selenium adalak produk hewani, hewan laut, produk susu, dan kacang Brazil. (Garam seperti garam laut, garam Kosher, garam gourmet, dan garam rendah iodium mengandung iodium dalam jumlah randah bahkan tidak ada.)
Lima Langkah Cara Menurunkan Berat Badan Bagi Penderita Hipotiroid

Pendekatan penurunan berat badan bagi pasien dengan hipotiorid tidak banyak berbeda dibandingkan dengan mereka yang bukan penderita. Namun demikian, berikut ini beberapa tips untuk membantu mencapai hasil terbaik.

Langkah 1: Pastikan Anda Didiagnosa dengan Tepat oleh Dokter yang Berkemampuan Baik

Mendapatkan diagnosa dan perawatan yang tepat dari seorang dokter sangat penting untuk mendapatkan kesehatan dan bentuk tubuh Anda kembali.

Diagnosa tergantung pada hasil cek darah yang mengukur kadar hormon tirois, bebas T3 dan bebas T4, dan hormon TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Kelenjar pituitari seharusnya mengsekresikan lebih banyak TSH saat kadar hormon tiroid rendah. Saat kadar hormon tiroid rendah dan kadar TSH tinggi, tes ini mengindikasikan hipotiroid. ( Angka persis yang menentukan seseorang menderita hipotiroid masih menjadi perdebatan. Asosiasi Tiroid Amerika saat ini menyarankan TSH dengan kadar 2,5mIU/L atau lebih dapat disebut hipotiroid. Beberapa praktisi menggunakan batasan angka lebih rendah, sementara beberapa praktisi secara umum mengikuti panduan lama dan menyatakan angka si atas 4,5 atau 5,5 mIU/L.)

Dokter akan meresepkan levothyroxine (Synthroid®), T4 sintetis, dalam jumlah yang dibutuhkan untuk mengembalikan kadar normal dalam tubuh. Beberapa lebih menyukai merespkan ArmourÒ tiroid, yang secara alami berasal dan mengandung hormon tiroid T3 dan T4. Kombinasi sintetik T3/T4 juga terdapat di pasaran (liotrix). Hormon T3, disebut “liothyronine,” juga dapat digunakan, baik dengan T4 atau secara tunggal. Sedihnya, T3 sering diabaikan oleh kebanyakan praktisi. Jika tidak disebutkan mengenai status T3 Anda, penting untuk menanyakan T3 secara khusus, karena ada banyak orang uang memiliki ketidakmampuan merubah T4 menjadi T3 yang aktif. Kekurangan T3 dapat mempengaruhi usaha penurunan berat badan Anda.

Langkah 2: Hindari Membajak Hormon Tiroid

Saat menggunakan hormon tiroid yang manapun, penting untuk melakukan rekomendasi dokter Anda, seperti makanan atau nutrisi tertentu yang dapat berinteraksi dengan penyerapan. Contohnya, asupan makanan yang mengandung kalsium atau zat besi dapat menghambat penyerapan hormon tiroid. Rekomendasi umum dari dokter adalah mengkonsumsi hormon tiroid (biasanya segera setelah bangun tidur) empat jam jaraknya dari makanan yang mengandung kalsium atau zat besi.

Penting pula untuk menghindari konsumsi berlebihan makanan goitrogenic. Goitrogen merupakan senyawa yang dapat mengganggu fungsi tiroid dengan memblok sebuah enzim, yang disebut dengan tiroid peroksidase, dari struktur ganda iodium menjadi tirosin untuk memproduksi hormon tiroid.

Makanan goitrogenic pada umumnya termasuk makanan kedelai non fermentasi, polong-polongan dan sayuran krusiferus mentah seperti brokoli, kembang kol dan kubis. Metode persiapan, seperti memasak atau fermentasi, mengurangi jumlah goitrogen dalam makanan ini. Selain itu, tumbuhan laut seperti ganggang, atau termasuk iodium yang memadai dalam makanan dapat selalu menetralkan goitrogen dari krusifera dan kedelai.
Langkah 3: Konsumsi Makanan Seimbang dengan Protein Berkualitas, Khususnya Saat Sarapan

Makanlan makanan secara teratur, seimbang, dengan kalori terkontrol untuk menurunkan berat badan penderita hipotiroid. Setiap makanan seharusnya dipastikan memiliki sejumlah tertentu proyein berkualitas (sekitar 20 – 30 gram). Protein adalah makronutrisi yang paling mengenyangkan-ditunjukkan oleh studi untuk mengurangi rasa lapar dalam jangka waktu lebih lama dibandingkan karbohidrat dan lemak – dan membantu untuk mempertahankan kenaikan metabolisme otot.

Jumlah protein yang direkomendasikan 0,8 kg per kg BB terbagi merata sepanjang hari. Sarapan pagi merupakan waktu terpenting untuk fokus pada protein karena kebanyakan orang tidak mendapatkan protein dalam jumlah yang cukup , waktu dimana otot paling membutuhkan protein (kecuali jam-jam tertentu setelah berolahraga).

Tidak semua sumber protein memberikan hasil yang sama untuk otot dan rasa kenyang. Whey protein, contohnya, kaya akan asam amino ranta cabang (BCAA), yang penting untuk otot, dan dapat mengenyangkan dibandingkan dengannn sumber protein lain.

Langkah 4: Konsumsi Makanan Tinggi Serat, Kurangi Karbohidrat dan Gula Rafinasi

Karbohidrat rafinasi merupakan sumber kalori “kosong” yang menghambat usaha penurunan berat badan. Karbohidrat rafinasi juga rendah kandungan serat yang justru sangat penting dalam memastikan pembentukan massa feses saat buang air besar cukup padat dan lembek. Dengan kecukupan serat dapat mencegah konstipasi yang disebabkan hipotiroid. Serat juga mengenyangkan, yang membantu mengurangi kalori untuk mendukung penurunan berat badan.

Menurut National Fiber Council, rekomendasi asupan harian adalah 25 – 30 gram serat per hari. Mereka yang belum terbiasa makan serat makanan dengan jumlah ini harus meningkatkan asupan secara bertahap untuk menghindari gas dan kembung.

Langkah 5: Olahraga Secara Teratur Sepanjang Hari … dan Jangan Lupakan Latihan Ketahanan

Bahkan olahraga hanya beberapa menit pun cukup untuk meningkatkan metabolisme pembakaran lebih banyak kalori. Maka menggunakan waktu beberapa saat mendaki anak tangga atau melakukan “jumping jack” setiap beberapa jam sekali memadai untuk meningkatkan metabolisme dan membakar lebih banyak kalori.

Olahraga berkontribusi untuk menurunkan berat badan dengan melakukan lebih aktif untuk membakar kalori. Latihan ketahanan progresif yang dikombinasi dengan asupan teratur protein berkualitas akan membantu pembentukan otot, yang akan meningkatkan kecepatan metabolik basal. Kecepatan metabolik basal yang lebih tinggi membakar lebih banyak kalori untuk jangka waktu yang lebih panjang. Otot membutuhkan ruang yang lebih sedikit dibandingkan dengan lemak dalam berat yang sama, maka Anda akan terlihat ramping dan bugar pula.
Tetap Konsisten: Jangan Terhalang oleh Hipotiroid

Penting bagi penderita hipotiroid untuk mengetahui bahwa kodisi dirinya bukanlah penghalang dalam mewujudkan tujuan kesehatan dan penurunan berat badan mereka. Memiliki sikap yang tepat tentang perawatan yang benar oleh dokter dan berusaha untuk menurunkan berat badan dapat menjadi perjalanan yang panjang. Sebagaimana Anda mendapatkan manfaat dari langkah-langkah yang telah diberikan, tetaplah konsisten, ciptakan target untuk diri sendiri, dan pastikan diri Anda dapat diandalkan untuk tujuan-tujuan ini. Anda pasti akan menikmati hasil yang fantastis!

Referensi

1. Kohlstadt I. Food and Nutrients in Disease Management. Boca Raton, FL: CRC Press, 2009.

2.Shils ME, Shike M, Ross AC, Caballero B, Cousins RJ. Modern Nutrition in Health and Disease. Baltimore, MD: Lippincott Williams & Wilkins, 2009.

Share

Comments closed.